Lo pernah nggak sih liat postingan Instagram atau TikTok, ada semangkuk bakso dengan tampilan… seni banget?
Mangkoknya gede kayak baskom, tapi isinya? 3 biji bakso kecil, kuah bening dikit, di atasnya ada daun-daun aneh yang katanya microgreens, ditaburin biji wijen hitam, dan disajikan di atas piring marmer dengan lighting softbox.
Harganya? 65 ribu.
Belum termasuk pajak. Belum termasuk service charge. Belum termasuk parkir.
Gue pertama liat, mikir: Ini bakso apa instalasi seni?
Tapi yang bikin gue tambah mikir: tempat itu ramai. Setiap hari. Anak muda pada antri, foto-foto, bikin konten, upload dengan caption “bakso aesthetic banget ✨”. Padahal di seberang jalan, ada tukang bakso tusuk gerobakan. Baksonya gede, tusukannya banyak, kuahnya melimpah, sambelnya pedas nampol. Harga? 15 ribu udah kenyang.
Sepi. Kadang cuma 2-3 orang.
Gue penasaran setengah mati. Kenapa sih anak muda lebih milih bakso aesthetic yang mahal dan sedikit, daripada bakso tusuk yang murah dan enak? Apa lidah mereka berubah? Atau ada yang lebih dari sekadar rasa?
Gue putusin buat investigasi. Gue dateng ke 3 tempat: satu bakso aesthetic viral, satu bakso tusuk legendaris, dan satu lagi bakso “tradisional” yang lagi nyoba upgrade tampilan. Plus gue ngobrol sama food blogger, psikolog konsumen, dan beberapa anak muda yang doyan jajan.
Hasilnya? Bikin gue mikir ulang soal artinya “makanan enak” di jaman sekarang.
Kasus #1: Bakso Aesthetic “Bakoesae” — 65 Ribu, 3 Biji, Antri 1 Jam
Gue dateng ke tempat ini hari Sabtu siang. Lokasinya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tempatnya aesthetic banget: dinding bata ekspos, lampu temaram, meja kayu panjang, dan… antrian panjang.
Gue ambil nomor antrian: 47. Nomor yang dilayani baru 23. Berarti 24 orang di depan gue.
Sambil nunggu, gue ngobrol sama 2 cewek di depan. Sebut aja namanya Sasa (23) dan Tiara (24). Mereka pegawai kantoran, lagi hunting konten.
“Ini kali ketiga gue ke sini,” kata Sasa. “Bukan karena enak banget sih. Tapi fotonya cantik. Setiap kali upload, likes-nya banyak. Orang pada nanya: ‘Itu di mana?’ Jadi sensasinya tuh beda.”
Gue tanya: “Rasanya gimana menurut lo?”
“Yaa… biasa aja sih. Bakso biasa. Tapi kuahnya sedikit creamy, mungkin pake susu atau apa. Unik lah. Nggak kayak bakso pada umumnya.”
Tiara nambihin: “Gue lebih suka yang original sebenarnya. Tapi ya gitu, yang original kan nggak estetik. Jadi ya beli yang mahal, buat konten.”
Akhirnya gue dapet meja. Pesan menu signature: “Bakso Truffle Cream” 65 ribu. Datangnya… ya ampun. Mangkok gede, tapi dalemnya cekung dikit. Isinya 3 bakso ukuran sedang, kuah putih kental, taburan jamur truffle iris tipis, dan setangkai rosemary.
Gue cicip. Rasanya? Enak sih, tapi nggak 65 ribu enaknya. Lebih tepatnya: rasa bakso biasa yang dikasih cream sauce. Truffle-nya hampir nggak berasa.
Gue liat sekeliling. Semua orang sibuk moto. Ada yang bawa lampu ring sendiri. Ada yang bawa properti boneka. Mereka foto dari berbagai sudut, selesai, baru makan. Dan kebanyakan, mereka makan cepet, foto lagi, trus bayar.
Data point: Dari 30 menit gue ngamati, 8 dari 10 pengunjung menghabiskan waktu lebih banyak buat foto daripada makan. Rata-rata mereka upload ke Instagram Stories dalam 5 menit setelah pesan datang.
Kasus #2: Bakso Tusuk “Pak Gino” — 15 Ribu, 5 Tusuk, Sepi Tapi Enak
Seberang jalan dari Bakoesae, ada gerobak bakso tusuk. Namanya “Bakso Tusuk Pak Gino”. Udah 15 tahun berjualan di situ.
Gue dateng abis dari Bakoesae. Perut masih laper (maklum porsi dikit), jadi gue pesan 2 porsi: 30 ribu dapet 10 tusuk bakso + mie + kuah + sambel.
Bapak Gino (55) lagi ngelap-ngelap meja. Sepi. Cuma ada 2 orang bapak-bapak yang lagi makan sambil baca koran.
Gue tanya: “Pak, ramainya jam berapa?”
Pak Gino senyum getir. “Dulu tiap sore rame, Mas. Anak-anak sekolah pada borong. Sekarang… ya gini. Mungkin pada pindah ke kafe-kafe.”
Gue tanya soal bakso aesthetic di seberang. Beliau udah tau.
“Iya, Mas, saya liat. Mahal banget. Tapi anak muda pada suka. Mungkin karena tempatnya bagus ya. Saya mah nggak bisa saingan. Gerobak begini.”
Gue cicip baksonya. Enak banget. Kenyal, gurih, kuahnya kaldu sapi beneran, bukan MSG doang. Sambelnya pedas nampol. Ini baru bakso.
Gue tanya: “Pak, pernah kepikiran bikin bakso yang aesthetic? Pake piring bagus gitu?”
Pak Gino ketawa. “Ah, Mas, saya nggak ngerti itu. Yang penting saya jual bakso enak, harga murah, orang kenyang. Tapi… mungkin zaman sekarang beda ya. Yang penting foto dulu, rasa nomor sekian.”
Gue diem. Karena beliau bener.
Statistik ngaco tapi nyata: Dalam 1 jam gue di Pak Gino, total pengunjung datang: 7 orang. Di Bakoesae, dalam 1 jam yang sama, mereka bisa puterin 30-40 meja.
Kasus #3: Bakso “Tradisional Aesthetic” — Nyoba Upgrade Tapi Kehilangan Jati Diri
Gue nggak puas cuma sampe di situ. Gue cari satu lagi: bakso tradisional yang lagi nyoba “naik kelas” jadi aesthetic. Namanya “Bakso Djadoel” di daerah Menteng.
Tempatnya unik. Mereka pake meja kayu antik, piring-piring lawas, tapi… tetep jualan bakso biasa. Harganya naik dikit: 35-40 ribu per porsi.
Gue pesan. Datangnya di mangkok seng lawas, ada sendok kayu, dan… bakso yang sama kayak bakso pada umumnya. Cuma ditaburin daun kemangi dikit.
Gue ngobrol sama pemiliknya, Mas Bagus (32). Dia cerita:
“Kita bingung sebenarnya. Dulu jualan biasa, harga 20 ribu, rame. Tapi pas tren bakso aesthetic mulai viral, pengunjung kita turun. Akhirnya kita renovasi tempat, ganti peralatan, naikin harga dikit. Sekarang lumayan ramai lagi.”
Gue tanya: “Rasanya beda nggak?”
“Rasa tetep sama. Cuma penyajiannya aja yang dipercantik. Kita nggak mau ubah resep karena pelanggan lama kita udah hafal.”
Tapi Mas Bagus ngaku, ada konsekuensi:
“Sekarang yang datang kebanyakan anak muda baru. Yang tua-tua pada kabur. Katanya, ‘Ah, sekarang mahal, tempatnya ribet, nggak nyaman kayak dulu’. Jadi kita kehilangan sebagian pelanggan setia.”
Pelajaran: Upgrade boleh, tapi jangan lupa siapa lo sebenarnya. Karena kalau lo berubah total, yang lama pergi, yang baru belum tentu setia.
Kenapa Bakso Aesthetic Lebih Laku daripada Bakso Enak?
Dari obrolan sama mereka, plus ngobrol sama food blogger Rina (28) dan psikolog konsumen Bu Dewi, gue dapet beberapa penjelasan:
1. Era Ekonomi Konten
Ini alasan nomor satu. Anak muda sekarang nggak cuma beli makanan. Mereka beli konten. Bakso aesthetic itu “bahan baku” buat bikin video TikTok atau posting Instagram. Semakin cantik tampilannya, semakin banyak likes-nya. Dan likes itu… kepuasan tersendiri.
Rina, food blogger yang gue wawancara, bilang:
“Gue jujur aja. Kadang gue dateng ke tempat mahal, rasanya biasa, tapi tampilannya keren. Tetep gue posting. Karena follower gue suka liat konten aesthetic. Yang penting feed rapi, yang penting videonya bagus. Rasa? Nggak terlalu ngaruh ke engagement.”
2. Pengalaman Lebih Penting daripada Rasa
Bakso aesthetic nggak cuma jualan bakso. Mereka jualan pengalaman: tempat duduk yang nyaman, interior instagrammable, pelayanan ramah, piring cantik, bahkan kadang ada live music. Itu semua bikin orang rela bayar mahal.
Sementara bakso tusuk? Ya cuma jualan bakso. Enak, tapi nggak ada “pengalaman”-nya.
3. Status Sosial
Makan di tempat aesthetic itu semacam flexing halus. Lo bisa bilang (tanpa bilang): “Gue mampu bayar 65 ribu buat semangkuk bakso. Hidup gue mapan.” Sementara makan di bakso tusuk? Nggak ada statusnya. Biasa aja.
4. FOMO (Fear Of Missing Out)
Begitu satu tempat viral di TikTok, anak muda pada berbondong-bondong dateng biar nggak ketinggalan tren. “Udah pada ke sini? Gue juga harus ke sini.” Padahal mereka sendiri mungkin nggak terlalu suka makanannya.
5. Ekspektasi Berbeda
Ironisnya, orang yang dateng ke bakso aesthetic biasanya nggak berekspektasi tinggi soal rasa. Mereka datang buat foto, buat konten, buat nongkrong. Kalau rasanya enak? Bonus. Kalau biasa aja? Ya udah, yang penting dapet fotonya.
Sementara orang yang dateng ke bakso tusuk? Mereka datang karena lapar dan pengen makan enak. Ekspektasinya tinggi. Jadi kalau rasanya sedikit aja kurang, mereka kecewa.
6. Pengaruh Algoritma
Tempat aesthetic lebih gampang viral karena secara visual menarik. TikTok dan Instagram suka konten yang cantik. Algoritma mendorong konten itu ke lebih banyak orang. Akibatnya, yang kelihatan terus itu bakso aesthetic. Bakso tusuk? Jarang masuk FYP.
Tapi… Ini Bahayanya
Jangan buru-buru nyerah jualan bakso biasa. Ada beberapa risiko dari tren ini:
1. Bisa mati secepat lahir
Tren itu sementara. Begitu “bakso aesthetic” udah nggak viral lagi, tempat-tempat ini bisa sepi dalam semalam. Yang bertahan biasanya yang bener-bener punya kualitas rasa.
2. Margin tipis karena biaya besar
Sewa tempat mahal, interior mahal, peralatan mahal, karyawan banyak. Bakso aesthetic butuh modal gede. Kalau sepi dikit aja, bisa jebol.
3. Konsumen nggak loyal
Anak muda yang datang karena tren? Begitu ada tempat baru yang lebih viral, mereka pindah. Nggak ada yang setia. Berbeda dengan bakso tusuk yang pelanggannya udah bertahun-tahun.
4. Abaikan kualitas rasa
Fokus ke tampilan doang, lupa rasa. Akhirnya setelah euforia reda, orang sadar: “Eh, ini bakso nggak enak ya.” Dan mereka nggak balik lagi.
5. Menciptakan standar gila
Harga makanan jadi nggak masuk akal. 65 ribu buat 3 bakso? Itu udah di luar nalar. Tapi karena semua orang laku, harga jadi “normal”. Padahal secara nilai, nggak sebanding.
Common Mistakes: Yang Sering Salah Soal Bakso Aesthetic
1. Mikir “yang penting tampilan”
Tampilan penting, tapi jangan lupakan rasa. Kalau cuma tampilan doang, orang akan kecewa dan nggak balik. Repurchase rate lo bakal rendah.
2. Lupa target pasar
Lo mau jualan ke anak muda Jaksel yang doyan nongkrong? Atau ke keluarga yang pengen makan kenyang? Dua pasar ini beda. Tentukan dari awal.
3. Overpricing tanpa alasan jelas
Mahal itu nggak masalah kalau ada value-nya. Tapi kalau cuma mahal karena tempatnya aesthetic, sementara kualitas makanan biasa? Orang akan merasa ditipu.
4. Nggak punya ciri khas
Banyak bakso aesthetic yang jualan menu sama persis: bakso cream truffle, bakso ramen, bakso keju. Nggak ada yang beda. Akhirnya semua terlihat sama.
5. Abaikan konsumen lama
Bakso Djadoel kehilangan pelanggan lamanya karena berubah terlalu drastis. Kadang, mempertahankan yang lama lebih susah daripada cari yang baru.
Practical Tips: Cara Bertahan di Era Bakso Aesthetic
Buat lo yang punya usaha bakso (atau makanan apapun) dan bingung menghadapi tren ini:
1. Upgrade tampilan tanpa ubah rasa
Piring lebih cantik, penyajian lebih rapi, lighting lebih bagus. Itu nggak perlu ubah resep. Tapi hasilnya beda. Orang bisa foto cantik, dan lo tetap jualan bakso yang sama.
2. Bikin “menu konten” khusus
Sediakan 1-2 menu spesial yang tampilannya super aesthetic. Harganya boleh lebih mahal. Sisanya, menu biasa dengan harga normal. Jadi yang mau konten bisa beli yang aesthetic, yang mau makan kenyang bisa beli yang biasa.
3. Manfaatin media sosial
Lo nggak perlu jadi food blogger. Tapi minimal, foto menu lo dengan pencahayaan bagus. Upload rutin. Pakai hashtag yang tepat. Ajak pengunjung buat tag akun lo. Itu promosi gratis.
4. Jaga kualitas rasa
Ini harga mati. Tren boleh berganti, tapi rasa enak itu abadi. Orang akan balik lagi kalau makanannya enak, meskipun tampilannya biasa.
5. Pahami siapa lo
Bakso tusuk Pak Gino mungkin nggak perlu jadi aesthetic. Cukup jaga rasa, jaga harga, jaga kebersihan, dan pelanggan setia akan tetap datang. Nggak semua harus ikut tren.
6. Kolaborasi dengan content creator
Undang food blogger atau influencer kecil (micro-influencer) buat cobain menu lo. Kasih mereka pengalaman yang berbeda. Mereka bisa bantu promosi ke audiens mereka.
7. Jangan lupa kenyamanan
Orang mau foto cantik, tapi mereka juga butuh tempat duduk nyaman, AC adem (kalau di Indo), dan pelayanan ramah. Itu semua bagian dari “pengalaman”.
Kesimpulan: Bukan Soal Enak atau Nggak, Tapi Soal Cerita
Pulang dari investigasi ini, gue duduk di kosan sambil mikir.
Dulu, makanan itu soal rasa. Lo beli bakso karena laper dan pengen makan enak. Sekarang, makanan itu soal cerita. Lo beli bakso aesthetic karena pengen punya cerita buat diupload, pengen jadi bagian dari tren, pengen ngerasa “kekinian”.
Apakah ini salah? Nggak juga. Setiap zaman punya caranya sendiri.
Tapi yang bikin gue miris: bakso tusuk Pak Gino yang enak banget, dengan harga terjangkau, dengan resep turun-temurun, malah sepi. Sementara bakso aesthetic yang rasanya biasa aja, dengan harga selangit, malah ludes tiap hari.
Mungkin ini cerminan dari jaman kita: kita rela bayar mahal buat sesuatu yang kelihatan keren, tapi kita lupa nikmatin esensinya.
Gue tutup dengan omongan Pak Gino:
“Saya sih tetap jualan, Mas. Yang penting orang yang lapar bisa kenyang dengan harga murah. Nggak papa sepi, yang penting berkah. Tapi kadang… saya sedih juga liat anak-anak muda sekarang lebih milih foto daripada rasa. Mungkin mereka belum tau, kalau bakso enak itu bukan cuma di mata, tapi di lidah.”
Gue bayar 30 ribu buat 10 tusuk. Kenyang. Puas. Tapi di kepala gue, pertanyaan ini terus muter:
Kita lagi beli makanan, atau beli pengakuan?
Lo tim mana? Tim bakso aesthetic atau tim bakso tusuk? Atau kayak gue—kadang nyobain yang aesthetic buat konten, tapi kangennya tetep ke bakso tusuk langganan? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari cerita lo, kita bisa nemuin jawaban.
